Langsung ke konten utama

Obrolan Tentang BPJS-Kesehatan

Mr X : Mas menurut sampeyan ikut BPJS itu mahal ndak?

Mr Y : ya ndak lah kan sebulan kita cuma bayar 25rb.

Mr X : berarti sehari kita cuma menyisihkan uang Rp. 850,- buat investasi kesehatan kita ya mas.

Mr Y : iya. Uang segitu itu tentu lebih murah dibanding 2 batang rokok maupun 2 potong gorengan yang biasa kita beli tiap hari.

Mr X : sampeyan pernah punya pengalaman menggunakan kartu BPJS ndak?

Mr Y : Beberapa bulan yang lalu, saya terkena penyakit Demam Berdarah dan harus opname selama 7 hari. Alhamdulillah karena saya sudah terdaftar sebagai anggota BPJS, saya dibebaskan dari berbagai biaya rumah sakit. Kalau ndak, bisa-bisa habis uang tabungan saya buat bayar biaya rumah sakit yang mahal.

Mr X : Sangat membantu sekali ya mas.

Mr Y : Iya, daripada kita terus menghujat pemerintah, mending kita gunakan saja program dan fasilitas yang sudah ada. Kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan sakit. Kalau tidak mau investasi dari sekarang ya repot nantinya.

Nb: alamat kantor BPJS Cab. Magelang Jl. Gatot Subroto no. 2 Magelang (dekat bangjo pakelan)

Komentar

  1. betul sekali daripada menghujat pemerintah ya lebih baik kita gunakan pasilitas yang diberikan

    BalasHapus
  2. setuju sekali dengan kata-kata Mr Y yang terakhir

    BalasHapus
  3. kirain ada pengalaman yang tidak menyenangkan soal kartu bpjs, ga taunya sangat membantu ^_^

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. kunjungan perdana di selasa sore, salam

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tulis tanggapan, kritik, saran atau komentar anda.

Postingan populer dari blog ini

Hidup Itu Seperti Toples

Sebagaimana orang kuliah, orang menjalani hidup pun juga punya "Cara" masing  - masing. Ada yang kuliah dengan santuy yang penting bisa lulus tepat waktu dengan nilai minimal C. Ada juga yang kuliah dengan belajar mati - matian. Mendalami ilmu dengan serius agar bisa bikin tesis yang mengguncang dunia. Atau agar setelah lulus bisa bikin terobosan baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Demikian pula orang dalam menjalani hidup.  Ada yang menjalani dengan hidup dengan harapan yang nggak muluk - muluk. Waktunya kerja ya kerja. Waktunya beribadah ya beribadah. Waktunya tidur ya tidur. Semua dijalani dengan senang hati. Yang terpenting bagi mereka adalah hidup nggak nyusahi orang tua, nggak ngrepoti pemerintah dan nggak jadi beban masyarakat. Tapi ada pula orang menjalani hidup dengan target. Harus bisa gini, gitu dan seperti itu. Semua penuh rencana dan target yang jelas. Mereka terus mengembangkan diri. Meskipun dah jadi artis, mereka tetap bikin bisnis. Sudah pu...

Salah Satu Bentuk Kebohongan

Tahun 2014 lalu, seorang tokoh berkata, "Mengatakan suatu kebenaran dengan menutupi sebagian kebenaran lain itu adalah termasuk kebohongan." Contoh : 1. Seorang pejabat desa dalam suatu pertemuan berkata, "Mulai bulan depan setiap penerima raskin akan menerima bantuan beras masing2 15 kg. Naik 5 kg dari yang sebelumnya 10 kg." Bulan berikutnya memang benar masing2 penerima mendapat jatah beras 15 kg. Tetapi ternyata jumlah penerimanya berkurang dari yang tadinya 100 orang hanya menjadi 70 orang. *Pernyataan pejabat desa tersebut adalah benar bahwa jumlah beras yang diterima 15 kg tetapi dia menutupi kebenaran lain yaitu jumlah penerimanya akan berkurang. 2. Contoh kedua yaitu yang sering dilakukan operator seluler di negara kita soal tarif telepon, sms, dan internet. Dalam iklannya terlihat tarifnya murah dan terjangkau tetapi ternyata ada yang tidak disampaikan soal Syarat dan Ketentuan yang berlaku.

Andai Jalur Muntilan - Temanggung aktif kembali

Dalam lamunanku, aku membayangkan andaikata jalur kereta api Muntilan - Parakan masih aktif tentu aku bisa pergi ke rumah mertua dengan kereta api yang lebih aman dan tidak kebut-kebutan. Masih dalam lamunanku, aku membayangkan naik kereta dari Stasiun Muntilan, di sana sudah ada banyak penumpang yang berangkat dari Jogjakarta dan Tempel. Aku menyapa mereka dan memberikan senyuman hangat sambil m encari tempat duduk yang masih kosong. Tak lama berselang, kereta kembali berjalan melanjutkan perjalanannya. Berturut-turut kami melewati jembatan di Sungai Keji, Sungai Bangkong dan Sungai Pabelan. Setelah itu kereta kembali berhenti di Halte Pabelan.