Pada posting ini saya ingin share sebuah puisi karya Bapak Ikrar Nusa Bakti seorang pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Puisi ini berjudul "Aku Rapopo."
Aku Rapopo
Aku bukanlah seorang jenderal berkuda
Tak tampak gagah nan berwibawa
Aku bukanlah seorang pengusaha punya banyak timbunan harta
Aku tak memiliki media, tak sering pula membuat pariwara. Tapi aku selalu menjadi obyek berita.
Aku tak pandai bersyair, apa lagi syair bernada satir.
Tapi aku tahu rakyat Indonesia pandai berpikir.
Aku Rapopo dibilang buaya, buaya kuat penegak keadilan.
Aku Rapopo dianggap wayang dan boneka, boneka rakyat dengan dalang Tuhan.
Menurut Bapak Ikrar, puisi itu sebagai bentuk dukungan kepada Jokowi atas serangan atau sindiran melalui puisi dan sajak yang dialamatkan kepada Jokowi.
referensi : http://nasional.inilah.com/read/detail/2088815/aku-rapopo-puisi-sindiran-untuk-prabowo#.Uz5QZEpqRkg
source gambar : http://nasional.inilah.com |
Aku Rapopo
Aku bukanlah seorang jenderal berkuda
Tak tampak gagah nan berwibawa
Aku bukanlah seorang pengusaha punya banyak timbunan harta
Aku hanyalah orang desa. Tak pernah mimpi menjadi penguasa
Aku telah menjadi pemimpin keluarga
Dengan anak istri yang membuatku bangga
Aku tak memiliki media, tak sering pula membuat pariwara. Tapi aku selalu menjadi obyek berita.
Aku tak pandai bersyair, apa lagi syair bernada satir.
Tapi aku tahu rakyat Indonesia pandai berpikir.
Aku tak biasa berperang, apa lagi melawan jenderal berbintang. Bagiku rakyat adalah pemenang.
Aku Rapopo di bilang ikan kerempeng, kerempeng badan tambun pemikiran.
Aku Rapopo dibilang buaya, buaya kuat penegak keadilan.
Aku Rapopo dianggap wayang dan boneka, boneka rakyat dengan dalang Tuhan.
Menurut Bapak Ikrar, puisi itu sebagai bentuk dukungan kepada Jokowi atas serangan atau sindiran melalui puisi dan sajak yang dialamatkan kepada Jokowi.
referensi : http://nasional.inilah.com/read/detail/2088815/aku-rapopo-puisi-sindiran-untuk-prabowo#.Uz5QZEpqRkg
aku gak ngerti :)
BalasHapusha ha ha perang puisi bertaburan mewarnai suasana pileg dan jelang pilpres....apapun puisinya yang penting sekarang rakyat indonesia sudah semakin pintar dan sudah semakin hebat...rakyat sudah bisa melihat dengan mata dan nurani...siapa yang paling tepat dan cocok untuk memimpin negara Indonesia lima tahun ke depan......Keep happy blogging always…salam dari Makassar :-)
BalasHapus