Langsung ke konten utama

Bersepeda dan Susur Pantai

Saya menulis artikel ini sebagai sebuah nostalgia bagi saya sekaligus untuk mengikuti sayembara yang diselenggarakan oleh Kang Isro' Mahfuddin aka Kang Batavusqu.

Ulang tahun saya yang ke-21 tahun 2009, saya anggap menjadi hari ulang tahun paling berkesan seumur hidup saya. Paling tidak itulah yang saya rasakan hingga sekarang. Di hari jadi saya tersebut, saya melakukan perjalanan bersepeda dan menyusuri pantai selatan pulau Jawa sendirian.

Secara umum, sebenarnya perjalanan tersebut memakan waktu 3 hari 3 malam. Mulai dari berangkat hingga sampai di rumah. Namun agenda utama saya yakni Susur Pantai, saya laksanakan tepat di hari lahir saya tanggal 05 Februari.


Tahap perencanaan sudah saya laksanakan sejak akhir Januari 2009. Dari tahapan ini dihasilkan beberapa  kesepakatan dengan diri saya sendiri bahwa,
  1. Persiapan perlengakapan perjalanan akan dilakukan Rabu pagi 04 Februari 2009
  2. Perjalanan akan dimulai pada hari Rabu, 04 Februari 2009 habis dzuhur. Dengan bersepeda melalui jalur Muntilan - Kalibawang - Nanggulan - Sentolo
  3. Hari pertama perjalanan, saya akan beristirahat di Masjid Al Amin, Sentolo pada malam harinya.
  4. Perjalanan bersepeda akan saya lanjutkan setelah shubuh  melewati jalur Sentolo - Wates - Pantai Bugel.
  5. Perjalanan susur pantai akan saya mulai dengan menyusuri Pantai Bugel menuju arah Timur. Dengan rute Pantai Bugel - Pantai Trisik - Pantai Pandansimo - Pantai Kuwaru - Pantai Samas - Pantai Parangtritis.
  6. Perjalanan pulang akan saya laksanakan dengan bersepeda melalui rute Pantai Parang Tritis - Jl. Paris - Kota Jogja - Jl. Magelang - Muntilan
Tahap pelaksanaan, sesuai dengan rencana saya mulai pada Rabu pagi. Saya persiapkan semua peralatan yang diperlukan selama perjalanan diantaranya 1 set Sepeda, 1 buah tas ransel, beberapa stel pakaian, beberapa botol minuman kosong, beberapa kunci pas, dan beberapa peralatan pendukung perjalanan.

Sepeda Onthel yang mirip punya saya dulu
gambar pinjam dari kaskus.co.id (saya tidak punya foto sepeda saya)

Perbedaan sepeda saya dengan sepeda di atas hanya di bagian Rem saja. Sepeda saya menggunakan rem torpedo sehingga tidak menggunakan rem tangan. Cara pengereman adalah dengan memutar pedal ke arah belakang

Setelah semua peralatan terkumpul, saya pamit dengan orang tua saya, memohon doa restu dan menjelaskan rencana perjalanan saya. Habis dzuhur saya pun memulai perjalanan saya menuju Kabupaten Kulon Progo. Pelan tapi pasti, desa - desa mulai saya lewati satu per satu. Beberapa kali saya harus turun dari sepeda karena ada tanjakan yang begitu tinggi.

Alhamdulillah sebelum maghrib saya sudah sampai di Masjid Al Amin Sentolo. Saya pun segera menuju rumah penjaga masjid yang ada di sebelah masjid. Saya minta ijin untuk menginap di Masjid tersebut pada malam itu. Tak lupa saya perlihatkan Kartu Pengenal saya. Akhirnya sang penjaga masjid memberikan saya ijin dan mengatakan bahwa saya tak perlu menitipkan KTP saya pada beliau. Beliau percaya bahwa mereka yang dengan sengaja berbuat jahat di lingkungan masjid pasti akan mendapat hukuman dari Allah SWT cepat atau lambat.
Masjid Al Amin, Sentolo, Kulon Progo (gambar dari www.panoramio.com)

Tak terasa, hari sudah berganti pagi. Kamis, 05 Februari 2009, Genap sudah usia saya 21 tahun. Saya pun pamit dengan sang penjaga masjid dan melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Saya melewati Kota Wates, ibukota Kabupaten Kulon Progo dan mengambil jalur menuju Pantai Bugel. Dan saya pun sampai di pantai Bugel kira - kira pukul 10 pagi.

Di Pantai Bugel, saya tidak melihat gerbang tiket atau semacamnya. Saya pun memasuki pantai dengan free alias gratis. Suasana di Pantai tersebut relatif sepi dibanding apa yang pernah saya lihat di Pantai Parangtritis maupun Pangandaran. Tanpa menunggu lama, saya pun segera memulai perjalanan susur pantai ke arah timur. Perjalanan ini saya lakukan dengan cara menuntun sepeda, dikarenakan tekstur pasirnya yang lembut dan tidak bisa dijadikan pijakan roda sepeda saya. Tak mengapa, apapun itu saya akan tetap melanjutkan perjalanan saya.

Deburan ombak mengiringi setiap langkah saya. Sesekali saya berhenti dan menikmati keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa. Tak terasa waktu sudah memasuki waktu sholat Dzuhur, saya pun berwudhu menggunakan air laut dan melakukan sholat di tepi pantai.

Selama di perjalanan beberapa kali saya bertemu nelayan pencari ikan. Mereka bertanya kepada saya tentang perjalanan yang saya lakukan. Ada yang bertanya "Dalam rangka apa??", ada juga yang bertanya "Apakah perjalanan ini agar bisa bertemu dengan Nabi Khidir??", "Apakah perjalanan ini dalam rangka Uji nyali???" dan lain sebagainya. Saya hanya menjawab bahwa perjalanan saya adalah untuk berolahraga sekaligus merenung, tidak ada maksud lain.

Sore hari, saya sampai di pantai Trisik. Di sana saya lihat banyak pemuda dan pemudi sedang berdua-duaan di dekat pantai. Saya tetap melanjutkan perjalanan saya diiringi tatapan heran mereka. Hingga di ujung pantai Trisik, perjalanan saya terhenti. Di depan saya terpampang sebuah muara sungai besar. Itulah muara Sungai Progo di laut selatan. Saya pun memutuskan untuk mengambil jalan memutar.

Karena tertahan oleh Muara Sungai Progo, perjalanan saya lanjutkan ke arah Utara menyusuri aliran sungai Progo untuk mencari jembatan terdekat. Hari sudah mulai gelap dan saya pun beristirahat di sebuah dusun dekat aliran sungai Progo. Dari penduduk setempat saya tahu bahwa jembatan terdekat untuk melewati Sungai Progo adalah Jembatan Srandakan. Sebuah jembatan yang menghubungkan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul.

Pagi harinya, Jum'at 06 Februari 2009, habis shubuh kembali saya lanjutkan perjalanan saya menyusuri sungai Progo. Akhirnya sekitar pukul 07.30 sampai juga di jembatan Srandakan. Saya memutuskan untuk sarapan di sebuah warung dekat kembatan tersebut, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Pantai Pandansimo.

Sampai di Pantai Pandansimo, saya membeli tiket masuk untuk memasuki pantai. Di pantai tersebut saya lihat banyak pemancing ikan di tepi pantai. Saya istirahat sebentar sambil menyaksikan keahlian para pemancing tersebut. Setelah cuckup beristirahat, saya pun melanjutkan kembali perjalanan ke arah timur. Saya melawati pantai Kuwaru dan beberapa pantai lainnya yang saya kurang tahu namanya. Hingga akhirnya sampailah saya di Pantai Samas.

Di ujung timur pantai samas, kembali perjalanan saya terhadang aliran Sungai Opak. Saya pun melakukan hal yang sama ketika perjalanan saya terhadang oleh aliran sungai Progo. Setelah melewati beberapa desa saya pun sampai di sebuah jembatan penghubung untuk melewati aliran sungai Opak. Setelah melewati jembatan, saya memutuskan untuk langsung menuju pantai parang tritis. Pantai paling ramai di antara pantai - pantai yang telah saya lewati sebelumnya. Saya sempat mandi di pinggir pantai bersama para pengunjung lainnya.

Sore harinya, saya melanjutkan perjalanan pulang ke rumah saya di Muntilan. Perjalanan pulang kali ini saya lakukan malam hari sambil menikmati indahnya Kota Jogja dan Jl. Magelang di malam hari.

Alhamdulillah, perjalanan saya berjalan lancar dan sesuai rencana. Saya pun bisa pulan ke rumah dengan selamat dan mendapat pengalaman berharga selama perjalanan tersebut.

Komentar

  1. Salam Takzim
    Subhannalloh patai yang tak pernah berujung sebagai bukti kebesaran Tuhan dan sebagai bukti kekuasaan Tuhan memberi batas antara lautan dan daratan. Banyak nama teruntai dalam kisah juga membuktikan kekayaan akan Nusantara dalam satu kebhinekaan. Sukses buat Mas Jier akan perjalanannya
    Salam Takzim Batavusqu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat dan sukses. Artikel ini menjadi salah satu pemenang, silahkan dijemput hadiahnya. Terima kasih

      Hapus
  2. Allhamdulillah aku juga dapet sayembaranya

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tulis tanggapan, kritik, saran atau komentar anda.

Postingan populer dari blog ini

Terima Kasih Atas Doa Para Sahabat Semua

Saya ucapkan Terima Kasih atas Doa para sahabat semua. Semoga Allah membalas kebaikkan para sahabat semua dengan pahala yang berlipat ganda. Amien ya robbal 'alamin

Anak SMA melakukan kegiatan Hiking

Anak SMA istirahat sambil makan Artikel berjudul Anak SMA melakukan kegiatan hiking ini bercerita tentang acara Hiking yang diadakan oleh salah satu Gugus Depan di Kabupaten Magelang. Akhir tahun 2013 lalu sekolah almamaterku mengadakan kegiatan Hiking atau jalan santai. Rute hiking tersebut adalah Sekolah - Ngluwar - Nglepu - SMP N 2 Kalibawang - Makam Nyi Ageng Serang - Curug Boro - SMP N 1 Kalibawang.

Kembali Ngeblog

Bismillahirrohmanirrohim Dengan menyebut nama Allah saya mulai kembali perjalanan saya di dunia Blogging. Setelah kemarin sempat terhenti karena sibuk menata diri dan segala sesuatunya di kampung halaman. Kini saatnya saya kembali lagi untuk meramaikan jagat blogging. Dengan dukungan koneksi dan kecepatan modem yang seadanya, bagi saya tidak masalah yang terpenting adalah mengfungsikan blogging dengan sebaik-baiknya sebagai salah satu sarana ibadah dan untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Saya mohon maaf kepada para sahabat Blogger, jika selama ini saya belum sempat berkunjung ke "rumah" para sahabat. Selain itu masih ada beberapa PR yang belum sempat saya kerjakan, salah satunya yaitu PR Sekolah Dasar dari Ibu Yunda Hamazah (maafkan daku ya bu). Insya Allah segera saya kerjakan PR-nya, biar tidak menjadi tanggungan saya hihihi. Akhir kata marilah kita isi jagat Blogging dengan konten-konten yang berkualitas sebagai wujud partisipasi kita dalam rangka membangun...